CAPM (Capital Asset Pricing Model) dan penerapannya


CAPM (Capital Asset Pricing Model) mempunyai pemikiran bahwa semakin besar suatu investasi, maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang diminta oleh pemodal. Untuk itu para analis harus berusaha untuk menaksir beta (yaitu ukuran resiko) investasi tersebut.

CAPM beranggapan bahwa bahwa arus kas tidaklah pasti, hal ini dikarenakan banyak faktor diantaranya adalah operating leverage. Dan faktor lainnya yang tidak ada kaitan erat dengan usaha (bisnis) adalah faktor ekonomi (makro ekonomi). Keadaan ini disebut dengan siklikalitas (cyclicality).

Dengan demikian, bila dipretasikan ke sebuah perusahaan bahwa suatu perusahaan yang mempunyai operating leverage dan siklikalitas yang tinggi maka perusahaan tersebut akan mempunyai resiko yang tinggi pula. Ini karena adanya ketidakpastian arus kas yang tinggi dan cenderung mempunyai beta (b) yang tinggi pula.

Adapun rumus dari CAPM ini adalah:

Ri = Rf + b (Rm – Ri)

dimana: Ri adalah tingkat keuntungan yang layak dari sekuritas i, Rf adalah tingkat keuntungan dari investasi yang bebas resiko, b adalah beta (ukuran resiko) sekuritas i, Rm adalah tingkat keuntungan portofolio pasar.

Bila CAPM ini digunakan untuk menentukan tingkat bunga r yang layak dalam perhitungan NPV, maka arus kas yang dipakai adalah arus kas yang diharapkan (expected cash flow).

Dan bila ingin menerapkan didalam capital budgeting, maka yang harus diperhatikan adalah:

  • Menaksir beta (b) dari rencana investasi yang sedang dianalaisis.
  • Menaksir tingkat keuntungan portofolio pasar, tentunya tingkat keuntungan rata-rata dari keseluruhan kesempatan investasi yang tersedia di pasar modal (indeks pasar).
  • Menentukan tingkat keuntungan dari investasi yang bebas resiko (yang dimaksud ini adalah sekuritas yang dijamin oleh pemerintah).
  • Menaksir arus kas yang diharapkan.

One response to “CAPM (Capital Asset Pricing Model) dan penerapannya

  1. Saat berinvestasi sepengetahuan saya kita dihadapkan adanya 2 kemungkinan :
    1. Meminimalkan resiko
    2. Memaksimalkan keuntungan
    Penggunaan CAPM ini apakah digunakan untuk kondisi pertama atau kondisi kedua?

    Mengenai aset bebas resiko apakah itu berarti dalam penggunaan CAPM kita diharuskan membagi aset kita ke aset beresiko dan aset bebas resiko?

    Tks

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s